syafrianti

Tinggal di Payakumbuh, mengajar di MTsN 5 Lima Puluh Kota, mengampu Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya

Kita di Awal Ramadhan

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba. Itulah ucapan yang selalu keluar dari mulut mungil putra kecilku akhir-akhir ini. Keceriaan terpancar di wajah anak yang masih berusia 5 tahun dan masih sekolah di TK A sebut saja namanya Zhafran.

Zhafran sangat penasaran dengan bulan Ramadhan ini. Berbagai pertanyaan muncul lewat mulut mungilnya. Bundapun semangat menjelaskan tentang Ramadhan sesuai dengan pikiran anak seusianya. Bahwa dibulan mulia ini umat Islam menjalankan ibadah puasa, dan selama puasa tidak boleh makan dan minum. Zhafran hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan bunda. Kemudian dia berucap dengan polos dan mengatakan bahwa dia akan mati bila tidak makan dan minum.

Bundapun memandang dengan memberikan senyuman dan menjelaskan kepada Zhafran bahwa puasa itu ibadah, tidak ada orang yang meninggal karena puasa. Setelah bunda menjelaskan panjang lebar terpancar diwajahnya rasa bahagia dan semangat kembali.

Sahur perdanapun tiba, kamipun bersiap-siap untuk makan sahur. Alhamdulillah awal sahur gampang dibangunin, langsung minta makanan kesukaan. Bundapun sigap menyiapkannya. Dengan lahap dihabiskannya menu sahur hari itu. Mata yang masih redup, tetap semangat menjalankan sholat subuh. Selesai sholat zhafranpun membaringkan tubuhnya dan akhirnya tertidur dengan pulas.

Ketika pagi hari sekitar pukul 10.00, Zhafranpun nampak lesu. Dan mulai manja-manja dengan bunda. Dia mengatakan kalau merasakan haus sekali. Bundapun menyemangati terus agar mau menahan dahulu. Jelang beberapa waktu datanglah kakak sepupunya yang bernama Kayla.

Kayla pun mengajak Zhafran untuk main bersama. Mereka asyik dengan permainannya. Bundapun mengambil aksi. Menuju dapur dan mulai bereksperimen dengan berbagai bahan yang ada dalam kulkas.

Aromapun sampai ke ruang depan tempat anak-anak bermain. Zhafranpun berlari kedapur dan berkomentar kepada bunda.

“bunda masak apa?, tergoda abang” ucapnya lugu

“bunda masak kesukaan abang, sekarang abang main lagi dengan kakakya” ucap bunda sambil membimbing Zhafran ke depan agar main lagi dengan kakaknya.

Mereka main kembali sampai bunda selesai memasak di dapur. Segala macam eksperimen bunda di dapur selesai ketika azan zhuhur berkumandang.

Bunda mengajak Zhafran, Kayla dan adik zhafran untuk sholat bersama. Selesai sholat, bunda mengajak mereka membaca Al-qur’an dan ditutup dengan tidur siang. Bunda pun tertidur pulas.

Waktupun terus berlalu sampai waktu sholat Ashar berkumandang, bundapun terbangun. Ternyata mereka masih asyik dengan kegiatan mereka. Waduh tertipu bunda. Gumamku dalam hati.

Zhafranpun kembali bermanja ria dengan bunda dan berbisik ke telinga bunda.

“Abang tidak kuat lagi nda?” ucapnya lesu

“sedikit lagi nak, 3 jam lagi” bujuk bunda

“enggak kuat” ucapnya lagi

Rasa iba Bunda pun muncul, dan mengizinkan si Abang berbuka puasa. Segelas tehpun disiapkan dan langsung diseruput oleh anak bujang.

Sepulang dari kerja Siayah selalu membawa buah tangan untuk anak-anak. Waktu itu pizza lah yang sampai ke rumah. Pizza merupakan makanan yang digemari Zhafran saat ini. Kotaknya langsung dibuka, satu potog, dua potong, hingga tersisa dua potong. Rasa kenyangpun sudah dirasakan.

Zhafranpun menghentikan, dan mengatakan bahwa pizza yang dua potong akan dia habiskan besok waktu sahur. Namun gagal bunda tidak berhasil membangunkannya, sedikitpun tidak berkutik dari tidurnya. Bundapun pasrah.

Mentari Pagi sudah bersinar dengan gagahnya. Zhafranpun terbangun, tanpa babibu dia langsung bangkit menuju kotak pizza dan melahapnya sampai habis. Bunda yang melihat hal tersebut melongi dan mengucapkan “Astagfirullah”. Memang perlu perjuangan mengajarkan puasa pada bulan Ramadhan ini. Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan pertama Zhafran belajar untuk puasa. bunda akan terus berusaha agar Zhafran bisa belajar puasa walau hanya semampunya saja.

Pada Ramadhan yang ketiga, bunda pun berjuang kembali untuk membangunkan Zhafran untuk sahur. Berbagaicara bunda lakukan. Bundapun teringat bahwa Zhafran takut sekali menjumpai kejadian-kejadian sebelum kiamat datang. Ya, hasil hobi dia menonton disalah satu chanel televisi yang menanyangkan Asma’ul Husna. Vidionya tentang benda-benda langin yang bertabrakan, bola-bola api, Stunami, dan masih banyak kejadian lain disepanjang asma’ul husna tayang.

“Zhafran, ayo bangun.... anak Sholeh” rayu bunda subuh itu

Zhafran masih tidak berkutik.

“ayo nak, abang bilang abang takut jumpa stunami?, ayo nak.... ayo lawan setan yang duduk di mata, di hati, ayo sayang berjuanglah, nanti setan tertawa lho, karena dia punya teman” rayu bunda kembali

Berangsur-angsur matanya membuka, dan bunda membacakan do’a bangun tidur sbanyak tiga kali dan bunda usapkan kebadannya. Akhirnya usaha bunda berhasil, Zhafranpun makan sahur dengan lahap dan ceria.

Alhamdulillah pada waktu itu puasanya full sampai magrib. Usaha bunda tidak sia-sia, walau tertatih-tatih dalam menanamkan pentingnya puasa dibulan Ramadhan ini. Pemahaman ini harus ditanamkan sejak dini, agar kelak menjadi kebiasaan dan kesadaran sendiri.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali